BERHENTI JADIKAN AKU ?CADANGAN? !! - Majalah Fashion Pria: Lifestyle, Tips, Info, Rekomendasi, Cara Berpakaian Pria Maskulin

Hot

Saturday, 26 January 2013

BERHENTI JADIKAN AKU ?CADANGAN? !!

Aku memukul tepi meja, mencoba melampiaskan semua kemarahan yg membara. Entahlah apa yg harus aku lakukan untuk membuat diriku terlihat ?tahu diri?. Papan nama yg bertuliskan nama dan jabatanku ? Seruni Olivia ? Wakil Divisi II Renbang ? jatuh ke lantai terkena sapuan tanganku. Kenapa aku harus mengerang seperti ini, menahan sakit yg seperti menghujam atau bahkan merasakan darah yg mendidih. Aku bukan siapa-siapa, bukan seseorang yg bermakna atau bukan orang yg berhak untuk marah. Aku menghela napas panjang, memijit keningku dan mencoba mengatur ritme napasku.
Aku butuh oksigen dalam jumlah banyak, sepertinya terlalu banyak karbondioksida dalam paru-paruku. Sengaja membuatku sesak dan kemudian membunuhku perlahan-lahan. Oh tidak, itu imajinasi berlebihan, aku hanya sedang berada dalam ambang keputus-asaan atau mungkin depresi tingkat tinggi. Hanya karena sebuah potret kesempurnaan yg tanpa sengaja aku lihat, rasanya seperti meluluh-lantakkan perasaanku. Foto yg sengaja kau edit, sengaja kau publikasikan dan mungkin sengaja untuk melukaiku, itu sangat berhasil. Foto sialan, dengan tokoh-tokoh sialan, seorang pria yg aku cintai dan seorang wanita yg begitu ku benci.
? Oh Tuhan, kenapa aku harus mencintai pria sepertinya .. Firly brengsek !!? pekikku dalam hati, aku berjalan kearah jendela besar. Memandang langit sore yg perlahan menjadi gelap, bunyi guntur perlahan nampak terdengar, samar dan semakin jelas. Rintik hujan mulai turun, aku menangis, mendekap tubuhku makin erat. Keadaan ini mungkin sudah seribu kali terjadi, tetapi kenapa aku masih bertahan ? aku mengerang dalam hati, menggigit bibir bawahku dengan sedikit tekanan. Aku terlalu lama menderita,
Kau menemuiku, tepat setelah aku menghubungimu dan menunggumu ditempat tersembunyi kita bertemu, di sebuah kedai makanan kecil dibilangan Kota. Ini tempat tersembunyi yg pernah kita temui, jauh dari keberadaanmu ataupun orang-orang yg mungkin curiga dengan tingkahmu. Kau selalu mencari aman, dimanapun dan dengan siapapun terutama aku. Kau datang, dengan sebuket mawar kuning seperti biasanya. Gerimis kecil membasahi wajahmu, aku bisa melihat jelas butir-butir air yg menempel di sekitar kumis tipismu. Kau tersenyum, melambai kearahku sementara aku berusaha meredakan kekecutan yg tergambar dari senyumanku.
? Hei, sudah lama ?? sapamu lembut seraya mengecup pipi kananku, aku menggeleng pelan ? Belum terlalu lama ?. Kau menyodorkan buket mawar kuning itu, aku menerimanya dan memasang senyum simpul. Meletakkan bunga indah itu di kursi sebelahku sementara kau duduk di hadapanku. Membuka mantel cokelatmu dan melonggarkan simpul dasi kantormu. ? Sudah pesan menu ?? tanyamu lagi, aku masih terdiam memperhatikan setiap detail dari wajahmu. Wajahmu nampak berbeda dengan wajah yg aku kenal 3 tahun lalu, ada sedikit gumpalan yg mengisi pipi tirusmu dahulu. Kau nampak bahagia, senang, pastinya. Kau menatapku, aku tak menyadari bahwa aku melemparkan pandangan penuh kebekuan ? Kau kenapa ??  kau menyentuh buku jariku, aku tersentak. Menggeleng pelan, kemudian menjauhkan jemariku dari tangan kokoh milikmu. ? Aku belum pesan, kamu mau makan apa ?? tanyaku dengan nada tak beraturan, aku berusaha menutupi semua, membolak-balik buku menu yg ada dihadapanku.
Satu jam berlalu, kita menikmati setiap potongan dari steak daging wagyu yg relatif murah dibandingkan jika menyantapnya di hotel bintang 5. Kau menyeka ujung bibirmu dengan tissu putih, menenggak gelas kecil yg berisi wiski sementara aku meremas-remas buku jariku dibawah meja. Aku harus bicara, sekarang dan tak bisa mundur lagi. Aku menghela napas berat, kau bisa menyadari itu dan dengan cepatnya menatap lurus mataku. Aku tak bisa mengelak lagi ? Aku ingin bicara, serius ? ucapku mantap, kau memiringkan kepalamu ke satu posisi dan melemparkan tatapan aneh penuh selidik ? Bicara apa, kau tak seperti biasanya ??
Entahlah, apa perkataanku cukup benar dimatamu, atau kah ini akan menjadi perkataan penuh kekonyolan seperti yg sudah-sudah. ? Kau tahu, aku benci Jingga !!? pekikku setengah marah, kau tersentak menatap tajam kearah mataku. ? Kau tak sama sekali menghargai perasaanku, apa kau tahu bagaimana sakitnya perasaan ku ketika melihat gambar ini ?? Hah !!? Aku menyodorkan ponsel hitamku, memperlihatkan foto yg membuat hariku berantakan, entah apakah kau menyadarinya. Aku merasakan rona panas dari kedua bola mataku, apakah kali ini aku akan menangis lagi ?? Jangan, aku berusaha meredam tangisku. Menatapmu lekat-lekat, ? Apa ini salah ? menurutmu ?? tanyamu santai, seperti biasanya menghadapi kekacauan pikiranku dengan sikap tenangmu. Rasanya ingin sekali melempar wajahmu dengan garpu dan pisau dihadapanku, andai saja aku tak mencintaimu. Apakah kau tak bisa sedikit saja sensitif seperti diriku ??
? Aku tak tahu, tapi ku rasa semuanya selesai !!? aku segera bangkit, menyambar mantel putihku kemudian berjalan melewatimu. Aku tahu, kau bukan tipe pria yg memohon-mohon pada wanita. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk itu, jika kau tak mencegahku, jika kau ternyata benar-benar tak memperdulikanku. Aku berjalan cepat kearah pintu kaca, mendorongnya dengan keras tanpa menoleh lagi ketempat dudukmu untuk terakhir kalinya.
Aku membuka knop pintu taksi, dan seketika itu kau mencegahnya. Aku menoleh, menemukanmu dengan wajah yg tak sedingin tadi. ? Aku ingin mendengarmu lebih banyak lagi ? pintamu lembut, aku menyeka airmata yg sedari tadi membanjiri pipiku. Aku tak bisa menolakmu, memang ini yg aku inginkan, aku ingin berbicara banyak padamu, tentang kau, keluargamu, dan kita. Kau menggandengku kearah gedung tinggi, memasuki lobby dan pergi menuju tempat makan yg mewah. Aku membutuhkan tempat yg nyaman, dan kau tahu itu.
? Ada apa sebenarnya ?? tanyamu lembut, seraya menyobek bungkus kecil gula putih dan meleburnya dalam cangkir teh panasmu. Aku mencoba melenyapkan isak tangisku, ini memang sangat tak dewasa. Aku seorang wanita yg berusia hampir kepala 3 dengan wajah merah dan suara isak yg nampak dipaksakan untuk menghilang. ? Aku melukaiku, mungkin. Tapi yaa memang kau berhak melakukan itu, kau berhak untuk apa saja. Kau berhak membuat hidupmu terasa sempurna, kau berhak memberikan cipratan kebehagiaanmu dan kau memang berhak melukai-ku !!? Aku menekankan nada pada kata terakhir. Kau mulai kehilangan kesabaranmu, mengaduk cangkir teh-mu dengan cepat dan kemudian melepaskan sendok kecil itu dalam putaran air.
? Aku tak mengerti maksudmu ? kau menjadi berbeda hanya karena sebuah foto ?? Ohh Seruni, bukankah itu sama halnya dengan aku memasang foto pernikahanku ??? Kau mencengkram ujung kursi mahal itu. Aku terteguh, merasakan setiap sayatan dalam kata-katamu. Kata ?pernikahan? yg seperti granat dan menghancurkanku. ? Kau memang tak pernah salah, tapi aku yg salah ! Aku mencintai pria beristri !!? makiku pelan, menatap kedalam matamu yg kini nampak menyesal telah mengatakan itu.
? Aku telah membuang banyak waktu untuk ini, untuk kau, untuk kita walau pada akhirnya kita tak akan bisa menjadi satu. 3 tahun aku mencoba menahan rasa sakitku, menahan semuanya !! menjaga agar perasaan Jingga tak terluka tapi kau, kau tak perlu susah payah untuk menjaga perasaanku. Kau tak pernah tahu bagaimana terlukanya hatiku, kau tak akan merasakannya !!!? umpatan demi umpatan aku lontarkan dengan kasar dihadapanmu. Aku telah hancur, dan tak ada yg lebih baik selain mengungkapan semua ini kepadamu.
? Kita sudah membahas ini ribuan kali, dan kau tahu bagaimana keadaanku ?? Aku mencintaimu dan tak bisa meninggalkan Jingga ? kau nampak frustasi menghadapi semua kekacauan pikiranku. Aku mendengus kesal, berkali-kali mengalihkan pandanganku pada beberapa pelayan yg nampak ingin mengetahui lebih banyak. ? Dan sekarang, aku katakan .. ini berakhir, kau tak bisa merubah apapun !!? Aku beranjak pergi, dengan pandangan menjijikan yg aku lemparkan kepadamu. Seorang pria yg tak pernah mengakui keberadaanku, dan seorang pria yg tak sungguh-sungguh ingin mempertahankan aku. Aku sudah muak dengan semua sandiwara ini,
Aku menangis dan terus menangis, berkali-kali ponselku berdering dan akhirnya berhenti dengan sendirinya. Berganti dengan dering pesan singkat, aku meraih ponselku, kesemuanya dari nomer ponselmu. Aku tak menghiraukan semua permintaan maafmu dan semua kepalsuan cintamu. Tak ada yg lebih kau inginkan selain menjadikan aku sebagai orang yg bisa mendengar semua keluh-kesahmu tentang berbagai hal yg tak bisa kau bagi dengan Jingga. Aku masih tak mengerti, kau berkata yg sebenarnya atau hanya bagian dari sandiwaramu.
Berkali-kali aku berusaha untuk berpikir bahwa aku satu-satunya wanita yg bodoh. Aku bertahan dengan hubunganku yg sebenarnya tak ada, dengan kesendirian yg sebenarnya membunuhku. Sebenarnya, itu tak ada bedany dengan jika saja aku berani memasang gambaran kebahagiaanku dengan seseorang yg lajang diluar sana. Tidak beda tapi kenapa menurutku tetap salah ? Kenapa aku justru setia padamu ?? Kenapa aku tak berani mengambil kebahagiaanku ? Kenapa aku harus selalu merasa terluka, merasa terhina dan merasa kalah ?? Aku memang kalah, sejak awal, sejak pertama kali menyadari hadirnya keberadaanmu. Tapi kenapa aku masih berdiri disini hingga 3 tahun ?? menikmati setiap tusukan-tusukan yg perlahan mematikan ?? Ahh kau pasti tak mengerti,
Hari ini semua berakhir, aku, kau atau semua sandiwara cinta ini. Aku tak sanggup lebih lama untuk menjadi pemain cadangan, cadangan cinta untuk dirimu. Sudah saatnya aku menjadi tokoh utama, pelaku cinta yg rill dan sah.
Aku pergi, mengepaki setiap baju kedalam koper besar berwarna merah tua. Passporrt dan visa tergeletak diatas nakas kecil, aku merapikan diriku. Penerbangannya akan berangkat pukul 9 pagi ini, dan sekarang tepat jam 2 dini hari, aku harus segera berangkat ke bandara Internasional. Hari ini tepat 3 hari setelah kejadian malam itu, dan aku sudah membuat keputusan besar dalam hidupku. Aku memilih untuk mengambil studi lagi di Columbia University, aku resmi diterima 2 hari yg lalu, sebenarnya semua studi itu atas usulan Dewan Komisaris untuk mendongkrak posisiku. Aku sudah berusaha mati-matian untuk menolaknya, tapi mereka dengan cepat mendapatkan rekap nilai IPK-ku yg menyamai nilai sempurna dan telah mengurus semuanya. Jika saja aku diterima, aku akan mati-matian menolaknya, hanya untukmu, DULU. Tapi sekarang, semuanya terasa tepat jika harus melupakan semuanya termasuk dirimu. Aku pergi dan akan menjemput bahagiaku seorang diri ????

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad